Menyuarakan Kebenaran

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (QS. Al Ahzab: 70).

Menyuarakan kebenaran bagi sebagian orang merupakan hal yang sulit. Bagaimana tidak, di tengah masyarakat yang amburadul seperti ini, menyuarakan kebenaran adalah sama halnya dengan mengenggam bara api. Digenggam tangan terbakar, dilepas api menjalar. Sangat dilematis. Tapi itulah yang harus kita suarakan. Menyuruh seseorang berbuat baik lebih mudah dilakukan ketimbang melarang seseorang berbuat jahat. Sebutan aneh, kerap dilekatkan terhadap orang-orang yang berusaha menyuarakan kebenaran. Di kantor-kantor atau instansi lainnya, baik pemerintah maupun swasta misalnya, budaya korupsi sudah sedemikian mengakar sehingga seolah-olah sulit untuk dihempaskan. Ibaratnya semua orang telah menganggap perbuatan tersebut sah-sah saja karena sudah saling tahu antara atasan dan bawahan. Ketika ada orang yang berani menegur atau mencegah mereka berbuat korupsi, ramai-ramai para pelaku mencap aneh dan sok alim kepada orang tersebut. Hal ini tentu saja berbeda jauh dengan kehidupan para sahabat Rasul yang senantiasa melindungi diri dari berbuat dosa, sekecil apa pun dosa itu.

Kondisi masyarakat yang serba bebas dalam berbuat dan berprilaku, memang menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk menguji keimanan. Amar ma’ruf nahyi munkar harus senantiasa ditegakkan. Dan ini membutuhkan keberanian kita dalam menyuarakan kebenaran. Kerusakan masyarakat telah nampak ketika individu-individunya tidak lagi mempedulikan perkara halal atau haram dalam perbuatannya. Yang ada dalam benaknya adalah menyenangkan atau tidak, merugikan atau menguntungkan. Sama sekali telah mengesampingkan aspek hukum. Hal ini diperparah pula dengan sikap sebagian tokoh intelektual yang notabene mengerti hukum yang cenderung diam menyaksikan kerusakan yang tengah berlangsung di masyarakatnya. Malah ada juga yang ternyata semakin memperburuk suasana dengan melontarkan penyataan yang membingungkan umat.

Semboyan “Qulil haqqa walau kaana muron.” (Katakan kebenaran itu meski terasa pahit), nampaknya perlu diupgrade lagi sehingga kita merasa berani menyampaikan kebenaran. Meski risiko yang bakal dihadapi adalah kepahitan dan kesulitan hidup. Dan saat ini justeru waktu yang tepat untuk menyampaikan kebenaran, di tengah masyarakat yang amburadul. Menyuarakan tak dibatasi oleh ruang dan waktu, di manapun dan kapan pun. Oleh siapa saja, tak peduli apakah ia pejabat, rakyat, orang kaya, kaum miskin, ulama, termasuk kita semua sebagai seorang muslim yang terbebani kewajiban melakukan ‘amar ma’ruf nahyi munkar. Dari Abi Said Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu telah berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; bila ia tidak mampu, maka dengan lidahnya, dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya (menolak kemunkaran tersebut), dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R. Muslim).

Sebenarnya, usaha meredam laju kerusakan sudah mulai tampak, meski cahayanya kalah pamor dengan kemunkaran itu sendiri. Paling tidak sudah ada tanda-tanda kesadaran dalam diri sebagian umat untuk berusaha bangkit dari keterpurukan ini. Berbagai cara coba ditempuh untuk menutupi kerusakan yang terjadi akhir-akhir ini. Syiar-syiar Islam mulai semarak meski baru berupa letupan-letupan kecil. Setidaknya, hal itu merupakan awal munculnya kesadaran umat akan islamnya itu sendiri dan langkah berikutnya adalah berusaha membela kebenaran dari ajaran-ajaran Islam.

Tentu saja, agar suara kebenaran lebih kelihatan bertenaga, poin-poin yang disampaikan harus betul-betul yang tengah ngetren di masyarakat dan berusaha memberikan solusi-solusi jitu dari berbagai permasalahan kehidupan mereka. Harus dihilangkan perasaan ragu dan takut, bahwa kita akan diberangus bila dianggap terlalu berani menyampaikan kebenaran Islam apa adanya. Karena risiko menyampaikan kebenaran memang demikian, apalagi dalam situasi dan kondisi yang seperti sekarang ini, ketika masyarakat dan negara mengabaikan aspek hukum. Rasulullah SAW., menyatakan: “Penghulu para syuhada adalah hamzah, serta orang yang berdiri di hadapan seorang penguasa yang dzalim, lalu memerintahkannya (berbuat ma’ruf) dan mencegahnya (berbuat munkar). Lalu penguasa itu membunuhnya.” (HR. Hakim dari Jabir).

Kebenaran harus senantiasa eksis di bumi ini, meski untuk itu kita harus mengorbankan segalanya yang kita miliki termasuk harta dan nyawa. Allah memberikan pujian bagi orang yang melakukannya, seperti dalam hadits di atas, juga dengan firman-Nya: “Mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104). “Kalian adalah sebaik-baik umat.” (QS. Ali Imron: 110). Jadi, tunggu apa lagi?n

(O. Solihin)

Akhlaq Bukanlah Segalanya

Sudah terlalu sering kita mendengar komentar-komentar para tokoh, Kiai, cendekiawan muslim, berupa: “Kehancuran bangsa ini, karena akhlaq pemimpinnya telah rusak” atau “Anak bangsa ini moralnya telah bobrok” atau “Kita bangun akhlaq, maka kita akan bangkit mengangkat keterpurukan bangsa ini” dan lain sebagainya. Benarkah akhlaq ini sebagai sumber malapetaka keterpurukan umat saat ini? Apakah mungkin, jika akhlaknya dibangun maka umat ini akan bangkit?

Mereka-mereka yang mempunyai alasan keterpurukan umat karena akhlaq, menggunakan dalil-dalil:

Sesungguhnya engkau (muhammad) benar-benar memiliki akhlaq yang agung (Al-Qalam 4).

Aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlaq (HR Al-Bazaar).

Maksud surat Al-Qalam ayat 4 diatas adalah:

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlaq Rasulullah, Aisyah menjawab: “Akhlaq beliau adalah Al-Quran” Artinya pernyataan Aisyah bahwa akhlaq Rasulullah saw adalah Al-Quran, bahwa Rasulullah telah menjadikan perintah dan larangan Al-Quran sebagai tabiat, akhlaq dan wataknya. Setiap Al-Quran memerintahkan sesuatu maka beliau mengamalkannya, setiap Al-Quran melarang sesuatu maka beliau meninggalkannya. (lihat tafsir Ibnu Katsir)

Artinya, Rasulullah menjadikan tolok ukur (masdar al-fikr) HALAL dan HARAM dalam setiap gerak langkahnya. Bukan akhlaq yang diartikan secara sempit sebagai jujur, sabar, murah senyum, tidak dengki, dll.

Karena jika dikatakan orang yang jujur berakhlaq baik, sedangkan orang yang berdusta tidak berakhlaq baik. Maka ini tidak tepat, karena berdusta dibolehkan dalam Islam, dalam hal tertentu semisal mendamaikan saudara yang berselisih, suami agar istrinya ridha atau peperangan (al-hadits). Dalam peperangan dibolehkan berdusta, memberikan informasi yang salah kepada musuh, memutarbalikkan informasi tentang posisi dan kondisi pasukan, dll. Artinya, tidak melulu orang yang berdusta dianggap tidak berakhlak baik, selama jujur dan berdusta dilakukan berlandaskan syara’.

Walhasil, pernyataan bahwa akhlaq biang keladi dari permalasahan umat ini adalah tidak tepat, membereskan semua masalah umat dengan akhlaq adalah tidak tepat juga. Pemahaman seperti ini akan mengakibatkan dua hal:

1. Menjauhkan pemahaman umat terhadap Islam sebagai sebuah sistem kehidupan (mabda’)

2. Mengaburkan pemahaman umat tentang nilai ruhiyah dari akhlaq

Menjauhkan pemahaman umat terhadap Islam sebagai sebuah sistem kehidupan (mabda’)

Kalau kita kaji Islam secara menyeluruh, maka akan kita temukan bahwa Islam mengatur 3 hal:

1. Hubungan manusia dengan Allah

-Aqidah

-Ibadah

2. Hubungan manusia dengan manusia lainnya

-‘Uqubat (sistem sanksi)

-Mu’amalah (perindustrian, pendidikan, kesehatan, sosial, dll.)

2. Hubungan manusia dengan dirinya

-Malbusat (pakaian)

-Math’umat (makanan)

-Akhlaq

Memfokuskan pemahaman hanya pada akhlaq, akan mengakibatkan pemahaman umat menjadi sempit dan seputar akhlaq saja. Sehingga timbul asumsi masyarakat; dengan memperbaiki akhlaq, maka semua permasalahan akan terselesaikan. Atau dengan menyempurnakan akhlaq, maka telah sempurna pula keislamannya. Disamping itu, pengaturan masalah ekonomi (iqtishadi), sosial (ijtima’i), jihad, da’wah, makanan (math’umat), pakaian (malbusat), aqidah, ibadah, dll, pembahasan yang berdiri sendiri dan bukan dalam pembahasan akhlaq dalam arti yang sempit tadi.

Membereskan semua masalah hanya dengan memperbaiki AKHLAQ, sama halnya seperti seseorang membangun rumah dengan berbekalkan sepotong gergaji. Memotong kayu dengan gergaji, mencor lantai dengan gergaji, memasang bata dengan gergaji, memasang ubin dengan gergaji, memasang genteng dengan gergaji. Tentu mustahil memasang setiap bagian dengan satu alat saja, karena masing-masing harus dipasang dengan alat yang khusus.

Jika umat banyak melakukan kesyirikan dan mempercayai tahayul-tahayul, dengan mempercayai ramalam-ramalan para dukun/paranormal, jimat-jimat berupa keris/batu, meminta wasiat kepada kuburan, pemberian sesajen, dll. Maka diobati bukan dengan kajian akhlaq tetapi dengan kajian tentang aqidah dan tauhid. Jika umat terpuruk dengan bergelimang ribawi (bunga bank), maka bukan diobati dengan kajian akhlaq tetapi dengan kajian ekonomi Islam (Iqtishadi). Jika umat terpuruk dengan memilih partai nasionalis dan sekuler, yang tidak mengakui hukum-hukum Allah (syari’at Islam) harus diterapkan dalam bernegara. Maka diobati bukan dengan kajian akhlaq tetapi dengan kajian politik Islam (fiqih siyasah). Begitulah seterusnya.

Kasus yang sama dengan akhlaq adalah, kajian dzikir dan tauhid. Umat yang difokuskan kepada DZIKIR semata dan memperoleh ketenangan batin karenanya, maka ini fokus dalam hal hubungan manusia dengan Allah yakni beribadah kepada Allah. Umat yang difokuskan kepada kajian TAUHID semata, hanya fokus dalam hal hubungan manusia dengan Allah yakni aqidah. Padahal Islam sangat luas cakupannya.

Jika mereka fokus dari satu topik kajian saja, maka mereka mengabaikan hukum-hukum Islam lainnya. Padahal saat seseorang telah baligh, maka ia menjadi mukallaf, yakni ia ditaklif (dibebankan) semua hukum Islam dipundaknya tanpa terkecuali. Ia harus paham sabar, seperti ia juga harus paham bahwa riba haram. Ia harus paham tidak dengki, seperti ia harus paham bahwa menutup aurat wajib. Ia harus paham bersikap jujur, seperti ia harus paham bahwa menerima korupsi/komisi adalah haram. Ia harus paham senyum adalah shadaqah, seperti ia harus paham bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bernegara, dst-nya.

Mengaburkan pemamahan umat tentang nilai ruhiyah dari akhlaq

Terlalu sering kita mendengar ceramah tentang akhlaq dengan kata-kata: “Jika seorang pedagang bersikap jujur, ramah, senyum maka ia memperoleh keuntungan yang besar. Karena pembeli menjadi loyal dan akan kembali lagi membeli kepadanya” atau “Jika seorang dokter murah senyum dan ramah, maka dokter akan beruntung. Karena mempunyai banyak pasien, dan para pasien akan menceritakan lagi kepada pasien lainnya”.

Penjelasan seperti diatas tidak salah, tetapi mengaburkan pemahaman umat tentang nilai ruhiyah sebuah amal perbuatan. Seseorang yang berbuat karena mencari ridha Allah atau ikhlas karena Allah, ia bersikap jujur karena Allah memerintahkan, ia tidak berbohong karena Allah melarangnya, ia murah senyum karena sunnah Rasul karena senyum itu shadaqah, maka disinilah letak nilai ruhiyahnya dan ia memperoleh pahala karenanya. Tetapi jika ia berakhlaq baik, agar pasiennya lebih banyak, pembeli lebih banyak, memperoleh pujian orang, dst-nya, maka ia hanya memperoleh nilai materi (keuntungan duniawi) semata, ia tidak memperoleh pahala dari Allah.

Khatimah

Keterpurukan umat saat ini bukan disebabkan oleh akhlaq semata, tetapi akibat terlalu jauhnya umat dari pemikiran-pemikiran Islam. Dalam mu’amalah, aqidah, akhlaq, ibadah, math’umat, malbusat dan ‘uqubat tidak lagi mengunakan standar (miqyas) Islam. Berekonomi menghalalkan riba, berpolitik machievalis, berpakaian telanjang, berideologikan demokrasi/kapitalis, berakhlaq jahiliyah, berhukum peninggalan Belanda, dll. Sehingga sulit bagi kita membedakan seseorang, apakah Islam atau kafir, ucapan dan perilakunya sama saja dengan orang-orang kafir. Padahal Islam adalah agama yang khas dan akan memancar pada pribadi seorang muslim/muslimah.

Kebangkitan umat (an-nahdah) tidak ditentukan oleh akhlaq, tetapi tergantung pada sejauh mana pemikiran-pemikiran umat tentang Islam (qiyadah fikriyah). Jika umat dalam setiap gerak langkahnya selalu mengacu kepada qiyadah fikriyah yang dipunyainya, yakni Islam, maka umat ini akan bangkit. Saat ia akan berumah tangga, ia pahami bagaimana Islam mengatur sebuah keluarga sakinah (ijtima’i), misal: kewajiban sebagai suami dan istri. Saat ia melakukan transaksi perdagangan, ia pahami bagaimana Islam mengatur transaksi perdagangan (iqtishadi), misal: haramnya riba. Saat ia menjadi karyawan, ia pahami bagaimana Islam mengatur perjanjian kerja (aqad ijarah), misal: haramnya korupsi, komisi, hadiah, dll. Dalam semua hal, umat dalam setiap gerak langkah kehidupannya selalu mengacu kepada aturan mulia dari Allah swt, maka saat itulah kebangkitan umat yang sebenarnya telah terjadi. Dengan kondisi itu, tentu ia ingin Islam diterapkan dalam seluruh sisi kehidupannya, tanpa terkecuali. Baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara.

Karena sebuah masyarakat Islam, bukan ditentukan oleh penduduknya yang mayoritas Islam, bukan karena dinamakan republik/kerajaan/negara Islam, bukan karena diterapkan sebagian hukum Islam dalam hal waris, nikah/rujuk/talak. Tetapi, sebuah masyarakat dapat dikatakan Islam, disaat PEMIKIRAN, PERASAAN dan ATURAN yang berlaku adalah Islam. Jika masyarakat telah mempunyai tolok ukur Islam (pemikiran), tetapi saat ada sekelompok orang berjudi dan mabuk-mabukkan ia masih ridha (perasaan), maka ini bukan masyarakat Islam. Jika ia tidak ridha terhadap perjudian dan mabuk-mabukkan (perasaan) dan tolok ukur ukurnya hanya Islam (pemikiran), tetapi hukum yang berlaku tidak Islam, maka ini juga bukan masyarakat Islam.

Seseorang bersikap jujur, sabar, tidak berbohong, murah senyum, menolong tetangga, dll, karena Allah memerintahkannya dan dicontohkan oleh rasul-Nya. Begitulah pemahaman yang harus diberikan kepada umat. Bukan akhlaq yang bersifat universal dan bernilai materi, karena bisa jadi orang-orang kafir juga mempunyai akhlaq yang baik, mereka jujur, senyum, tidak bohong, tetapi karena landasan aqidahnya telah rusak maka ia tidak bisa dikatakan sebagai individu yang shalih. Apakah kita mau dikatakan: “Dia itu akhlaqnya baik, tetapi tidak shalih”

Wallahua’lam

Meramal Nasib

Meramal Nasib

Dari Abu Musa, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak masuk surga; pecandu arak, pemutus silaturahmi, dan orang yang percaya pada sihir.” (HR. Ahmad).

Era reformasi ternyata begitu banyak memberikan kebebasan. Setelah pemerintah melonggarkan kebijakan di bidang pers, akhirnya banyak muncul budaya yang dulu malu-malu untuk membuka diri, seperti pornografi, misalnya. Dan era reformasi juga semakin menumbuhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dunia supranatural. Tentu saja seiring dengan berkibarnya dunia klenik, keimanan masyarakat terhadap Allah justeru melorot, bahkan bisa dikatakan sampai pada derajat titik nadir. Ini membahayakan. Berbagai iklan di media massa seolah menjadikan legalitas praktek perdukunan. Meski dalam iklan tersebut mereka memakai bahasa yang sedikit ‘sopan’, dunia supranatural dengan berkedok pengobatan dan lain sebagainya.

Sebagai seorang muslim yang beriman, ketika menghadapi gejala tak sehat seperti ini dalam sebuah masyarakat, maka yang harus dan bahkan wajib dilakukan adalah bagaimana kita berupaya untuk tidak larut bersama budaya sesat seperti itu. Globalisasi kebodohan seperti ini pernah juga terjadi ketika Islam belum turun untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat di Jazirah Arab. Namun, ketika Rasulullah dengan membawa ajaran Islam hadir dan memberi warna pada kehidupan mereka, tradisi sesat itu mulai hilang sedikit demi sedikit sampai akhirnya Rasul membersihkan segala bentuk praktek sihir. Sabdanya: “Hukuman terhadap tukang sihir itu dipenggal lehernya dengan pedang. (HR. Tirmidzi dan Daruqutni).

Bila kita berkaca kepada ajaran Islam, rasanya kita akan berpikir beribu kali sebelum melibatkan emosi kita dalam dunia klenik (perdukunan alias sihir) tersebut. Kehidupan yang serba tak menentu bagi sebagian masyarakat kita, tidak lantas kemudian jatuh ke dalam pelukan para pembual alias para tukang sihir yang mencoba menggoda dengan berkedok pengobatan ‘alternatif ‘. Ritme kehidupan yang tengah kita jalani ini tidak perlu dirusak dengan praktek perdukunan. Allah akan menjamin kehidupan setiap hambanya selama hamba tersebut percaya bahwa hanya Allah Ta’ala lah yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Kita tak perlu mencoba meramal nasib, atau dengan alasan menjaga diri kemudian kita terjebak dalam dunia klenik tersebut.

Kehidupan sekarang boleh berubah, meski dengan perubahan yang menyebabkan sebagian dari kita bangkrut dalam kehidupan ini. Namun tidak berarti bahwa kemudian merasa sah-sah saja ketika harus melibatkan diri dalam dunia klenik alias perdukunan yang sembunyi di balik alasan pengobatan ‘alternatif’ supranatural seperti banyak diiklankan media massa. Kita tidak boleh percaya kepada apa yang dikatakan para tukang sihir yang menggoda kita bahwa mereka bisa meramal nasib, atau paling tidak mereka mengatakan bisa memberikan semacam penjagaan kepada kita. Seharusnya tak boleh terpedaya begitu saja, karena mereka itu meski kadang-kadang benar dan terbukti apa yang diucapkannya tersebut, namun itu tak lebih dari bualan saja. “Dan dari Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw pernah ditanya oleh sekelompok manusia tentang masalah tukang tenung (sihir), maka jawabnya: ‘Mereka bukan apa-apa,’ mereka pun bertanya lagi: ‘Ya Rasulullah sesungguhnya mereka itu kadang-kadang menceritakan sesuatu yang ternyata benar.’ Maka jawab Rasulullah saw: ‘Kalimat itu dari Allah yang dicuri oleh Jin lalu diulang-ulanginya ke telinga kekasihnya dengan dicampur 100 kedustaan.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim dalam kitab Terjemah Nailul Authar Juz VI, halaman 2686) n

Oleh Solihin

Pemilu

FATWA TENTANG PEMBERIAN SUARA(VOTTING)UNTUK(MENETAPKAN)HUKUM CIPTAAN MANUSIA

Pertanyaan : Apa fatwa tentang orang-orang yang berpartisipasi di dalam pemilihan umum Inggris dan yang memberikan suara ?

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa dan semoga keselamatan dan Rahmat-Nya senantiasa terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat, serta seluruh pengikutnya.

Agar dapat menjawab pertanyaan yang sangat penting tentang berpartisipasi di dalam parlemen Inggris dan memberikan suara untuk para calon yang akan berpartisipasi dalam parlemen. Kita harus mengetahui realitas atau hakikat fakta, karena kaidah syara’? menyatakan bahwa bagian dari menilai suatu persoalan adalah memahami persoalan tersebut atau mengetahui hakikat faktanya.

Dalam hal ini kita harus mengetahui realitas atau hakikat fakta dari dua hal ;
1. Parlemen Inggris yang mana beberapa calon ingin berpartisipasi didalamnya dan,
2. Pemilihan yang mana orang-orang ingin terlibat didalamnya yaitu dengan memberikan suara (voting)

Kita harus ingat bahwa bagian dari ke-Imanan dan percaya kepada Allah SWT adalah At-Tauhid yang berarti mematuhi, mengikuti, menyembah dan meng-agungkan Allah SWT semata, tanpa menyekutukan Dzat-Nya atau gelar-Nya dengan sesuatu yang lain, dan sebaliknya menyekutukan Dzat-Nya  dan gelar-Nya dengan segala sesuatu yang lain adalah perbuatan syirik, yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam, dan itulah mengapa At-Tauhid sebagai dasar dari rukun Islam. Salah satu dari gelar-gelar-Nya adalah Ia adalah Maha Pembuat Hukum dan Maha Memerintah dan dia mempunyai hak kekuasaan yang mutlak untuk memerintah dan membuat hukum, yang tak satupun dapat menggantikan kekuasaan mutlak-Nya ini. Allah SWT berfirman:


Keputusan itu hanyalah Kepunyaan Allah” (QS 12 : 40)


Dan Allah juga berfirman :

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasulnya maka sungguhlah dia akan sesat, sesat yang nyata” (QS 33 : 36)

Setelah menentukan dua fakta diatas marilah kita meneliti realitas atau hakikat fakta dari parlemen. Para pakar hukum menyebutkan bahwa Dewan Legislatif adalah lembaga untuk mengesahkan hukum, sedangkan orang yang bergabung didalamnya disebut MP’s, yaitu para wakil dan utusan rakyat yang telah dipilih oleh rakyat. Tidak ada perjanjian diantara mereka, baik yang ada di Negara-negara Timur atau Barat bahwa fungsi utama dari parlemen adalah untuk membuat hukum(Undang-undang) dan bahwa peran dari MP’s adalah untuk memilih para menteri diantara mereka. Sehingga kita dapat menyebutkan beberapa tugas utama dari Badan Legislatif atau parlemen sebagai berikut :
1. Membuat dan mengesahkan Undang-undang(UU)
2. Memberi mosi percaya kepada Perdana Menteri dan kabinetnya sebagai pelaksana pemerintahan.

Mengenai sumber-sumber pembuatan UU di parlemen adalah meliputi :
1. Pikiran dan keinginan-keinginan dari para wakil rakyat dan  menteri sebagai  wakil Rakyat.
2. Lembaga-lembaga Internasional atau juga disebut hukum Internasional.

Aqidah dari sebagian besar orang-orang di dunia sekarang ini adalah sekularisme, yang menyatakan bahwa : Tuhan HANYA mempunyai kedaulatan di surga atau di dalam gereja dan tempat-tempat peribadatan, sebaliknya manusia yaitu rakyat mempunyai kedaulatan di bumi dan seluruh aspek kehidupan, kecuali agama.(menurut aqidah sekulerisme, agama adalah suatu urusan pribadi antara seseorang individu dengan Tuhan atau sesuatu yang diagungkan seperti matahari, sapi, patung, orang dst)
Ini adalah realita yang terjadi di parlemen dan dasar dimana parlemen tersebut dibangun.

Mengenai realitas voting; pemilih(Voter)mempunyai kedaulatan umum karena rakyatlah yang membuat hukum untuk urusan mereka sendiri didalam masyarakat. Karena mereka memiliki kedaulatan, maka mereka menentukan suatu mekanisme dalam memilih para wakilnya, yang menjadi wakil rakyat untuk membuat hukum(UU)dan memerintah atas nama kepentingan-kepentingan mereka sendiri. Hal ini diwujudkan dalam prinsip politik ciptaan manusia yang menyatakan bahwa ‘aturan adalah dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat’,oleh sebab itu kita dapat menyimpulkan bahwa rakyat berhak untuk membuat hukum atau Undang-undang.

Realitas dari pemilih (Voter) adalah dia sebagai orang yang memilih wakilnya, yang menghasilkan fakta bahwa dia juga bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan oleh wakilnya. Tugas para wakilnya disini adalah membuat hukum(UU)supaya dapat mengatur semua kepentingan rakyat.
Ringkasnya, parlemen adalah sebuah badan yang membuat hukum(UU), rakyat adalah raja, dan sumber pembuatan serta penetapan hukum(UU), dan para wakil rakyat (MP’s) dipilih oleh rakyat untuk membuat serta menetapkan hukum(UU) atas nama rakyat. Fatwa terhadap hal diatas :
1. Seseorang yang percaya bahwa Allah SWT bukan satu-satunya Pembuat Hukum (UU) dan Penguasa Tunggal, adalah seorang yang tidak beriman (kafir)

2. Seseorang yang percaya kekuasaan Allah SWT tetapi menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain dan menentang bahwa dia sebagai Pembuat Hukum dan Penguasa Tunggal adalah seorang yang musyrik yang menyekutukan Allah dengan  sesuatu yang lain.
3. Seorang muslim yang memberikan suara untuk memilih wakilnya, dan telah mengetahui bahwa parlemen adalah sebuah lembaga untuk membuat hukum(UU)adalah seorang yang ingkar terhadap agama.
4. Seorang muslim yang berpartisipasi dalam pemilihan untuk menjadi seorang wakil rakyat dan dia telah mengetahui realitas parlemen sebagai sebuah Badan Legislatif adalah seorang yang ingkar terhadap agama.
5. Seorang muslim yang tidak mengetahui realitas parlemen dan dia memberikan suara maka dia berdosa, karena dia tidak mencari status hukum dari perbuatannya, sebelum melaksanakan perbuatan tersebut. Kaidah syara’ menyatakan bahwa setiap perbuatan, lisan atau fisik, harus didasarkan pada Hukum Syara? yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-sunnah.
6. Seorang muslim yang berpartisipasi dalam voting untuk memilih para wakilnya, apakah wakilnya itu muslim atau non muslim, karena mendasarkan tindakan pada suatu pendapat yang menyesatkan dari seorang rasionalis atau pendeta sekuler, maka persoalan ini harus dijelaskan kepadanya. Karena pemahaman bahwa Allah adalah satu-satunya Pembuat Hukum adalah sesuatu yang harus diketahui dari Dinul Islam sebagai suatu kebutuhan, sehingga ketidak tahuan tentang hal ini tidak bisa dijadikan sebagai sebuah alasan, oleh karena itu dia berdosa.
7. Keadaan yang bisa dijadikan alasan untuk terhindar dari kesalahan itu adalah orang yang baru masuk Islam (muallaf), atau seorang yang betul-betul bodoh dan atau seseorang yang tidak mengetahui tentang sesuatu yang seharusnya diketahui sebagai kebutuhan dari Dinul Islam dikarenakan dia tumbuh dibawah hukum kufur dan hidup ditengah-tengah orang-orang non muslim. Persoalan ini harus dijelaskan kepada mereka tetapi jika mereka tetap melanjutkan untuk memberikan suara karena mengatakan bahwa mereka mempunyai pendapat yang berbeda maka mereka berdosa.

Mengenai dalil syar’i untuk fatwa diatas adalah dari firman Allah SWT :

“Dengan kembali bertaubat kepadaNya dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (QS. 30 : 31)
Juga firman Allah :


Dan dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutunya dalam menetapkan keputusan” (QS 18  : 26)


Dan juga sudah sangat dikenal dalam Islam bahwa hukum apapun  selain Hukum Allah adalah Thaghut dan Allah mengancam orang-orang yang merujuk kepada Thaghut :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada Thaghut padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu.Dan Syetan bermaksud menyesatkan mereka(dengan)penyesatan yang sejauh-jauhnya”(QS 4 : 60)


Telah disampaikan mengenai keadaan tentang ayat diatas bahwa orang-orang munafik mengaku dirinya muslim tetapi ketika berselisih, mereka justru merujuk kepada keputusan-keputusan yang diciptakan para wakil rakyat jaman sekarang sebagai pembuat hukum(UU)seperti Amru Bin Luhay,Al-Khuzaa’ie dan Ka’ab Bin Al-Ashraef bersama-sama dengan para rahib, pendeta dan para wakil rakyat yang lain yang telah terbiasa membuat hukum(UU)untuk mereka, daripada merujuk kepada Rasulullah dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Mengenai orang-orang yang telah tersesat dan telah jatuh pada kemungkaran dan kemaksiatan yang nyata ini Rasulullah SAW berkata “

“Salah satu yang sangat saya takutkan dari ummatku adalah adanya pemimpin-pemimpin yang sesat yang mengarahkan sebagian dari ummatku untuk menyembah berhala dan mengarahkan sebagian yang lain untuk mengikuti orang-orang musyrik”.

Sehingga siapapun yang memilih dan mengikuti para pembuat hukum(UU)yang sesat tersebut, maka nyata-nyata mereka telah memilih seorang raja untuk membuat hukum (UU) untuk mereka. Hal ini berarti mereka telah menyekutukan Allah karena Mencipta Hukum dan Memerintah hanyalah Hak Allah semata.


Manakah yang baik, Tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya.Allah tidak menurunkan suatu keterangan mengenai nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain dia. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS:12:39-40)

Hal ini adalah realitas suatu Aqidah baru yang menyatakan bahwa kedaulatan ditangan manusia yang telah diikuti sebagian besar orang sekarang ini. Oleh karena itu apapun yang telah dilakukan seseorang sebagai perbuatan yang baik dan juga apapun yang telah dilakukan seorang muslim seperti sholat, puasa dan perbuatan baik yang lain, tetapi setelah itu melakukan kemungkaran ini dan tidak bertaubat dari kemungkaran ini maka  seluruh perbuatan baiknya itu menjadi sia-sia, Allah SWT berfirman :


Itulah petunjuk Allah, yang dengannya dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya diantara hamba-hambanya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amal-amalan yang telah mereka kerjakan”(QS 6 : 88)

Dan bagi orang-orang yang mengatakan bahwa kami tidak menyebut mereka ‘Pencipta’ tetapi kami hanya menyebut mereka ‘Pemerintah’, maka mereka harus segera mengingat firman Allah SWT :


Ingatlah, Menciptakan dan Memerintah hanyalah Hak Allah. Maha Suci Allah Tuhan Semesta Alam” (QS 7 : 54)

Oleh karena itu tidak seorangpun yang diperbolehkan untuk disekutukan dengannya, sebagai dzat yang Maha Pencipta sama halnya tidak seorang pun yang berhak untuk menyekutukannya, sebagai Dzat Yang Maha Memerintah dan Dzat Yang Maha Membuat Hukum.

Mengenai orang-orang yang telah disesatkan oleh yang lain dan telah melakukan kemaksiatan ini, maka itu adalah sebuah kesalahan mereka, kami menasehati mereka untuk takut kepada Allah dan tidak melakukan kemaksiatan ini lagi, karena Allah SWT akan mengampuni hambanya yang telah melakukan suatu perbuatan tanpa kesengajaan, tetapi dia tidak akan pernah mengampuni hambanya yang melakukan perbuatan itu dengan sengaja, sampai mereka berhenti dan minta ampun kepadanya. Allah SWT berfirman :


Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu”(QS 33 : 5)

Sehingga kesalahan yang dilakukan tanpa kesengajaan adalah akan diampuni seperti yang telah diceritakan oleh Rasulullah SAW tentang seorang Badui yang telah kehilangan ontanya di padang pasir bersama dengan seluruh pakaian dan airnya dan kemudian dia menemukan ontanya setelah kehilangan seluruh harapan hidupnya dan telah bersiap menghadapi kematian. Allah SAW mengirimkan ontanya kembali kepadanya dan dia memohon seraya berkata : “Ya Allah kamu adalah Hambaku dan aku adalah Rajamu. Berkenaan dengan hal ini Rasulullah SAW berkata “Sesungguhnya dia melakukan kesalahan itu karena dia tenggelam dalam kebahagiaan”.

Sangatlah berbeda antara orang yang memilih atau memberikan suara karena ketidaktahuan, mengira bahwa apa yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang baik dengan orang yang melakukan kejahatan itu dengan serngaja. Dia mengajak orang-orang untuk berpartisipasi dalam pemilihan dan memberi suara, mengumpulkan dana, mendirikan posko-posko, menulis dan menyebarkan selebaran, mengundang para wakil rakyat di rumah Allah memberi mereka hadiah, menjamu mereka dan bahkan mengorbankan Tauhid agar dapat dipilih atau dapat memberikan suara karena mengira mereka mendapatkan keuntungan darinya. Adalah sangat berbeda orang-orang seperti ini dengan seorang Badui yang telah disebutkan dalam cerita diatas yang melakukan kesalahan karena ketidaksengajaan.

Akhirnya saya ingin menekankan disini bahwa tujuh fatwa diatas tidak termasuk orang-orang yang memilih atau memberikan suara karena dibawah tekanan dan paksaan, atau murni karena ketidaktahuaan, atau orang yang telah disesatkan tanpa ada penjelasan padanya. Ini adalah salah satu dari malapetaka yang telah mempengaruhi kehidupan kaum muslimin di belahan bumi ini.

Saya berdo’a kepada Allah SWT semoga mereka segera sadar akan kesalahannya dan semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk beraktivitas dalam rangka melaksanakan perintah-Nya dan menegakkan agama-Nya, sehingga kedaulatan hanya milik Allah semata, dan kejayaan Islam segera menaungi seluruh bagian bumi ini. Segala Kemuliaan dan Pujian semata-mata hanya untuk-Nya.

Syaikh Omar Bakri Muhammad
Hakim Pengadilan Syari'ah Inggris

Amir Al-Muhajirun

Al-Muhajirun
Suara, Mata dan Telinga Kaum Muslimin

Islam & Kedaulatan

Salah satu ide yang amat berpengaruh di tengah-tengah masyarakat Islam saat ini adalah ide ‘Demokrasi’. Sedemikian sakralnya ide Demokrasi, sampai-sampai segala bentuk keburukan, kedzaliman senantiasa identik dengan istilah : ‘tidak demokratis’. Dan sebaliknya, seakan-akan setiap sesuatu yang ‘demokratis’ (menerapkan nilai-nilai demokratis) itu pasti baik. Demokrasi menjadi tolok ukur yang amat besar pengaruhnya dalam masyarakat, khususnya dalam aktivitas-aktivitas kemasyarakatan. Maka jika sesuatu itu dibumbui dengan kata ‘demokrasi’, jadilah ia istilah yang dapat diterima oleh masyarakat; bahkan terkesan ‘harus’ diterima oleh masyarakat.
Sehubungan dengan demokrasi ini pula, untuk mengejawantahkan nilai-nilai demokrasi, pemilihan anggota parlemen di suatu negeri, bahkan di negeri-negeri Muslim, menjadi wahana untuk memberikan kesempatan pada rakyat dan partisipasi, untuk merumuskan hukum dasar dan haluan negara (Terbit, 2 April 1996). Wahana ini –lanjut Munawir Syadzali– adalah wahana politik dari sistem demokrasi berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat. Dari sinilah kita paham bahwa salah satu ide paling mendasar dari isu ‘demokrasi’ adalah : ‘kedaulatan hanyalah milik rakyat semata’ . Wujud dari kedaulatan rakyat bisa dalam bentuk langusng maupun tak langsung. Yang jelas dalam hal ini rakyatlah pemilik kedaulatan tertinggi sekaligus pemilik kekuasaan.
Karena ide-ide tersebut sangat membekas di kalangan umat padahal Islam sendiri memiliki penjelasan hukum tersendiri mengenai hal ini, maka selayaknyalah kita bertanya, benarkah kedaulatan itu milik rakyat?

Islam dan Kedaulatan

Demokrasi dibangun atas dasar prinsip yang menegaskan bahwasanya hak dalam membentuk undang-undang dan arah pembangunan berada di tangan rakyat. Dalam sistem kenegaraan, ide dasar tersebut secara praktis tersimpul dalam lembaga yang disebut lembaga legislatif, yaitu lembaga yang menentukan hukum-hukum dasar, serta haluan suatu negara. Apapun yang menjadi produk lembaga ini, berarti hukum yang tidak dapat diganggu gugat lagi. Dengan kata lain, rakyatlah –yang diwakili oleh lembaga legislatif– yang berdaulat (menentukan hukum apa yang akan diterapkan dalam masyarakat).
Kedaulatan atau As-Siyadah adalah istilah yang berasal dari Barat dan memiliki pemahaman/pengertian tertentu yang bertumpu pada aqidah sekularisme. Maksud kata ‘kedaulatan’ tersebut adalah menangani dan menjalankan suatu kehendak atau aspirasi tertentu (Qowaaid Nidhomul Hukmi fil Islam, kar. Dr. Mahmud Abdul Majid al Khalidi, hal 46).
Apabila terdapat seseorang yang menangani dan mengendalikan aspirasinya, maka ia pada dasarnya memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri. Jika aspirasi orang tadi dikendalikan dan diatur oleh orang lain, berarti ia telah menjadi hamba (‘abdun) bagi orang lain. Sebuah negeri yang terjajah, akhirnya menjadi hamba-hamba yang aspirasinya, sudah diatur oleh sang penjajah. Dengan kata lain, kedaulatannya sudah berada dalam genggaman sang penjajah.
Sistem demokrasi berarti kedaulatan berada di tangan rak-yat. Artinya, rakyatlah yang menangani dan mengendalikan aspirasinya. Rakyat berhak untuk mengangkat siapa saja yang dikehendakinya seraya memberikan hak penanganan dan pengendalian aspirasinya kepada orang terpilih tersebut.
Islam telah menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan syara, bukan di tangan rakyat. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Menetapkan hukum/peraturan itu hanyalah merupakan hak Allah.” (QS Al An’am:57)

Begitu pula firmannya:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah” (QS Al A’raaf:54)

Yang dimaksud dengan Al Amru (perintah) dalam ayat ini meliputi perintah Allah SWT untuk mengatur alam semesta dan perintah Allah SWT dalam menetapkan hukum bagi kehidupan manusia. Berarti hanya Allah sajalah yang bertindah selaku Musyarri’ (Yang menetapkan hukum). Dialah satu-satunya Dzat yang berhak memerintah. Tidak ada lagi seorangpun di kalangan makhluq-Nya yang layak menya- mai-Nya dalam penciptaan, sebagaimana halnya juga tidak ada yang layak menyamainya dalam memerintah, atau dalam menetapkan hukum.
Allah SWT telah mencela orang-orang yang mengaku dirinya beriman, padahal mereka berhukum kepada ‘thaghut’, yaitu hukum selain hukum Allah SWT. Firman Allah SWT:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Dan jika dikatakan kepada mereka ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang diturunkan Allah dan kepada hukum Rasul.’ Niscaya kamu melihat orang-orang munafiq akan menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari mendekati kamu.” (QS An Nisaa’:60)
Berdasarkan ayat ini, tidak dibenarkan berhukum kepada thaghut, yaitu setiap hukum yang bukan berdasarkan hukum Allah SWT.
Bagi seorang muslim, tidak ada pilihan lain kecuali mentaati dan tunduk pada apa yang di-berikan Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebagaimana friman-Nya :

“(Dan) tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, akan ada lagi bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS al Ahzab:36)
Tidak cukup dengan itu saja, malah setiap kecenderungan seorang muslim hendaknya tunduk pada Islam, tunduk pada hukum syara’. Sabda Rasulullah SAW:

“Tidak beriman seseorang diantara kalian, sehingga hawa nafsunya (keinginannya) disesuaikan dengan apa yang telah aku datangkan (yaitu hukum syari’at Islam).” (Fathul Baari, jld XIII, hal.289)
Setiap sistem ataupun peraturan buatan manusia, yang bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW adalah sistem thaghut, yang harus disingkirkan.Selain itu, upaya tadi harus dilanjutkan dengan menempatkan Islam sebagai penggantinya. Seorang muslim tidak dibenarkan melakukan perbuatan yang akan mengokohkan sistem-sistem thaghut itu. Sebab perbuatan itu –jika dilakukan– berarti telah menjauhkan Islam sebagai hukum Allah SWT yang haq dari penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mungkin hukum dan peraturan produk manusia akan menyamai apa lagi mengungguli, atau bahkan lebih benar dari pada hukum Allah SWT:

“Maka, apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah, bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah:50)
Oleh karena itu, yang berkuasa di tengah-tengah ummat maupun individu serta yang menangani dan yang mengendalikan aspirasi ummat dan individu itu adalah apa yang berasal dari Allah SWT dan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ummat dan individu harus tunduk kepada syara’. Maka di dalam Islam Kedaulatan itu adalah milik syara’ (hukum Islam) (Nizhamul Hukmi fil Islam, kar. Taqiyuddin an Nabhani, hal 39)
Seorang kepala negara (khalifah) di dalam Islam dibai’at (diangkat setelah dipilih) oleh ummat bukan sebagai Aajir (pekerja/executif) yang mendapatkan gaji untuk melak- sanakan apa yang telah dikehendaki oleh ummat, yakni hukum-hukum dasar yang disusun oleh rakyat, sebagai haluan bagi kepala negara melak- sanakan aspirasi mereka, sebagaimana yang terjadi dalam sistem demokrasi Barat. Islam mengajarkan kepada kita bahwa kepala negara (khalifah) itu dibai’at oleh ummat berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya agar ia melaksanakan secara sempurna semaksimal mungkin Kitabullah dan Sunnah Rasul, yaitu melaksanakan hukum syara’. Jadi bukan melaksanakan apa yang dikehendaki oleh rakyat (manusia).
Walhasil, baik rakyat ataupun penguasa (khalifah) tunduk pada hukum syara’. Inilah makna dari pernyataan ‘kedaulatan adalah milik Syara’. Rakyat tidak boleh mengikuti pendapat-pendapat atau hukum yang bertentangan dengan hukum syara’, apalagi jika ia diperintah dalam perkara maksiyat. Begitu pula sebaliknya penguasa tidak akan menerima pendapat rak-yat dan melaksanakan aspirasinya apabila pendapat mereka itu menyimpang dari ajaran dan hukum Islam. Seandainya ummat sepakat untuk menghalalkan perjudian atau perzinaan, padahal perbuatan-perbuatan jenis itu telah diharamkan oleh Allah SWT dengan tegas, maka kesepakatan mereka tidak akan bernilai sedikitpun di sisi Allah.
Seorang muslim adalah hamba Allah SWT. Ia wajib menyesuaikan setiap bentuk perbuatannya agar menetapi perintah dan larangan Allah SWT. Begitu pula ummat ini tidak diperkenankan memiliki dan mengikuti kehendaknya sesuai dengan hawa nafsu atau hanya berdasarkan nilai ‘manfaat dan maslahat’ semata. Sebab kedaulatan bukan berada di tangan ummat. Yang menjalankan dan mengarahkan kehendah ummat hanyalah syara’.
Sudah tiba waktunya bagi kalian, wahai kaum muslimin untuk bangkit dan menjauhkan diri kalian dari kesalahan dan dosa yang di-sebabkan karena diamnya sikap kalian dalam berhukum kepada thaghut. Jadi berjuanglah untuk Islam dan menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Tentu semua ini untuk kebahagiaan kita bersama; kita dan generasi mendatang, baik selama hidup di dunia apalagi akhirat kelak !

Idealnya Seorang Pemuda

Ibnu Abbas r.a. berkata: “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 – 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang ‘alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja. Kemudian Ibnu Abbas r.a. membaca firman Allah swt. dalam surat Al Anbiya ayat 60: “Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (Tafsir Ibnu Katsir III, halaman 183).
Idealnya, seorang pemuda harus memiliki semangat yang hebat. Mengingat fisik mereka yang masih kuat. Dalam sejarah, usia para pemuda Islam yang pertama mendapatkan pembinaan di Daarul Arqaam rata-rata sekitar 20 tahunan. Yang paling muda adalah Ali bin Abi Thalib, waktu itu usianya masih 8 tahun hampir sama dengan Az-Zubair bin Al ‘Awwam. Kemudian dalam pembinaan Rasul itu masih ada Ja’far bin Abi Thalib yang saat itu usianya 18 tahun, Usman bin ‘Affan, usia 20 tahun, Umar bin Khaththab sekitar 26 tahun dan Abu Bakar As Shidiq yang sudah berusia 37 tahun saat itu. Dan masih banyak lagi para sahabat yang semuanya masih relatif muda usia. Mereka bersemangat dalam mengikuti pembinaan Rasulullah. Aqidah Islam yang ditanamkan Rasul mampu mengubah pola pikir mereka tentang kehidupan.
Bahkan dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Abdullah Ibnu Umar, yang masih berusia 13 tahun dan Al Barra’ ngotot ingin berperang bersama pasukan Rasulullah dalam perang Badar, namun oleh Rasulullah ditolak karena masih kecil. Tahun berikutnya pada perang Uhud, beliau tetap ditolak, hanya Al Barra’ yang boleh ikut. Barulah keinginannya yang tak tertahankan itu terpenuhi pada saat perang Ahzab, Rasul memasukkannya ke dalam pasukan kaum muslimin yang akan memerangi kaum musyrikin (Shahih Bukhari jilid VII, hal. 226 dan 302). Semangat seperti inilah yang saat ini sulit ditemukan dalam diri pemuda Islam. Kalau pun ada itu hanya sedikit saja yang memilikinya. Jangankan untuk berjihad, dalam menuntut ilmu saja, pemuda kita sudah bosan dan tak bersemangat. Yang muncul justeru semangat dalam tawuran dan tindak kriminal lainnya.
Seorang pemikir dari Beirut, Musthafa Al Ghalayaini berkata: “Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.” Kemudian Musthafa Kamil, pemikir dari Mesir berkomentar: “Pemuda yang bodoh, beku (tidak punya ruh jihad) untuk memajukan bangsa, matinya itu lebih baik daripada hidupnya.” Rasanya, komentar-komentar yang dilontarkan para pemikir Islam ini tak mengada-ngada. Dan bukan pula menekan para pemuda. Justeru memberikan gambaran yang jelas bahwa pemuda yang ideal adalah yang mampu menjadi pelopor dalam kemajuan bangsanya. Bukan pengekor. Yang hanya menjadi sapi perah peradaban yang rusak.
Menyikapi peran pemuda, Imam Asy Syafii mengatakan bahwa: “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).” Seorang pemuda harus memiliki ilmu dan ketakwaan, dan yang pasti, mereka harus menjadi kebanggaan umat. Harus menjadi teladan yang diidamkan siapa saja. Tentu saja, teladan dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan. Sepertinya para pemuda mesti mencontoh Usamah bin Zaid yang masih muda belia, usianya 18 tahun saat diangkat menjadi panglima perang oleh Rasulullah untuk memimpin pasukan kaum muslimin dalam penyerbuan ke wilayah Syam yanag berada di bawah kekuasaan Romawi. Menakjubkan!
Tentu saja, untuk menghasilkan para pemuda pilihan seperti itu dibutuhkan pembinaan yang benar dan baik kepada para pemuda. Lingkungan keluarga wajib memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan kepribadian pemuda kita. Masyarakat dan negara pun perlu memberikan suasana kondusif bagi pembinaan pemuda. Memberikan pengawasan yang baik, bukan malah memberikan pengaruh buruk. Ilmu yang dibarengi dengan ketakwaan akan menjadikan para pemuda memiliki peran yang besar dalam kemajuan sebuah bangsa dan peradaban. Dan tak mustahil, akan menjadi pemuda idaman bagi umat. Wallahu’alam 

Salafi 3

3- Ikhwan : benar bahwa para khalifah mengajak untuk mengikuti syari’at Allah. tapi apakah semua para shahabat nabi saat itu semuanya sibuk mendakwahkan penegakan daulah ke berbagai negeri ataukah mereka mendahulukan dakwah kepada tauhid. dan juga apakah antum melihat salafiyyin itu tidak berpegang kepada syari’at ?
Tanggapan :
3- Al-Mujadid :
a- Tentang pernyataan anta: “apakah mendakwahkan penegakan daulah ke berbagai negeri ataukah mendahulukan dakwah kepada tauhid ? “, berikut penjelasannya :
Contoh terbaik dalam dakwah adalah dakwah yg dilakukan oleh Rasul SAW, maka kita harus mengkaji apa saja yang dilakukan Rasul SAW selama dakwah yang beliau lakukan di Makkah, apakah terbatas pada dakwah tauhid atau ada aktifitas yg lainnya. DR. Abdurrahman Al-Baghdadi menjelaskan bahwa selama di Mekkah, Nabi Saw melakukan sejumlah aktifitas  a.l  :
a- Pemantapan aqidah islamiyah. Aqidah dijadikan sebagai asas perbaikan individu, asas masyarakat, dan asas penyenggaraan negara.
b- Pergumulan pemikiran : membantah hujjah mereka dan menyerang pemikiran aqidah mereka.
c- Perjuangan politik : menentang para pembesar dan pemimpin mereka sertamembongkar rencana dan konspirasi mereka; seperti yg tertera dalam surat al-qolam ayat 10-16, surat ath-thoriq ayat 15-17, surat anfal ayat 30 dll.
d- Menyerang hubungan diantara anggota masyarakat serta adat istiadat yg tlh usang yg mengatur mereka. Seperti yg dijelaskan dlm surat Al-Muthafifin ayat 1- 6 yg menjelaskan tentang kecurangan dalam menakar timbangan, lalu pada surat Al-Isra’  ayat 31-34 ttg pembunuhan thd anak2.
e- meneguhkan hati rasul SAW dan orang yg berima dg kisah dan janji Allah yg sangat dirindukan berupa kemenangan dan kedududkan dimuka bumi, seperti pada surat Hud ayat 120, serta Al-Qoshas ayat 5- 6 (Lihat Dakwah silam dan Masa depan Umathal. 114 – 119 oleh DR. Abdurrahman Al-Baghdadi). Sebagai perbandinga silahkan mengakji kitab2 sirah yg lain spt sirah Ibn Hisyam, sirah Ibn Ishaq, sirah Al-Halabiyah, tarikh Ath-Thobari, Bidayah wa Al-Nihayah li Ibn katsier, Al-Kamil fit tarikh li Ibn Atsier, dan kitab sirah lainnya tentang Bab Dakwah rasul SAW selama berada di Mekkah sebelum Hijrah ke Madinah.
Dari sini kita dpt melihat bahwa aktifitas rasul SAW di Makkah selain dakwah untuk mengajak org musyrik masul Mekkah masuk Islam, tdp aktifitas yang lain spt pergumulan pemikiran, Perjuangan politik, mengganti adat istiadat yang rusak dan bertentangan dg Islam dan beberapa aktifitas lainnya. Sehingga berdasarkan kajian sirah dakwah Rasul SAW, dapat kita simpulkan bahwa Dakwah tauhid harus integral dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan islam, yaitu dakwah untuk mengembalikan seluruh hukum Allah SWT, baik yg menyangkut hubungan individu dg Rabb-Nya berupa aturan yang menjelaskan tentang masalah sholat, zakat, haji, atau yang menyangkut hubungan individu dg dirinya sendiri berupa aturan yg menjelaskan ttg masalah pakaian, makanan-minuman, serat akhlaq, atau yg menyangkut hubungan individu yang lain berupa aturan yg menjelaskan masalah ekonomi, pmerintahan, sosial – kemasyarakatan, pidana dsb, yang harus diemban oeh sebuah institusi negara !!! Lagi pula, sejak awal Hizb telah meletakkan prinsip bahwa aqidah asas Aqidah dijadikan sebagai asas perbaikan individu, asas masyarakat, dan asas penyelenggaraan negara !!!? Sehingga apa yg dituduhkan oleh akhi Ikhwan, ini ibarat jauh panggang dari api (apa yang dituduhkan tdk terbukti) !!?.
b- Kalau anta menuduh bahwa pembahasan aqidah Hizb kurang dibanding masalah politik adalah dusta semata !!! Hizb telah mengeluarkan dan mentabanni sejumlah kitab yg membahas banyak masalah spt : Nidzam Iqtishod (sistem ekonomi islam), Al-Anwal fi daulah Al-Khilafah (Sistem keuangan dalam Daulah Al-Khilafah), Nidzam Uqubat (sistem sangsi islam), Nidzam Al-Hukmi (sistem pemerintahan islam), Nidzam Ijtima’ (sistem pergaulan islam), Daulah Al-Islamiyyah (Kitab Sirah), Syakhsiyah Al-Islamiyah tdr dari 3 jilid (berisi pembahasan masalah aqidah, hadis, jihad, muamalat, ushul fiqh dll), Ad-Dussiyah dan Ma’lumat li Asy-Syabab (nb : 2 kitab ini banyak memabahas masalah aqidah dan kritik atas peyimpangan aqidah umat dr aqidah yg shohih yg berdasar kitab dan As-Sunnah), ahkam Ash-Sholat (Hukum2 sholat) dan berbagai kitab lainnya yg membahas berbagai masalah termasuk diantara afkar siyasi dan Nadzarat siyasi li hizb At-Tahrir  (nb : 2 kitab terakhir ini scr spesifik membahas pemikiran kontemporer dan konstalasi politik internasional) !!! Ditambah lagi puluhan bahkan ratusan kitab yg telah ditulis oleh para syabab dg tema Aqidah, hadis, Fiqh, Ushul Fiqh, Tafsir, Ekonomi, politik, Sejarah, Ilmu sosial, Ilmu Psikologi, sirah dll. Sekali lagi, telah terbukti bahwa tuduhan si Ikhwan ini tdk terbukti dan ini hanya sebuah kedustaan yg pasti Allah akan meminta pertanggungan jawab atasnya !!!?
c- Tentang apakah semua para shahabat nabi saat itu semuanya sibuk mendakwahkan penegakan daulah ke berbagai negeri ataukah mereka mendahulukan dakwah kepada tauhid. Mari kita tengok dan pelajari sirah Rasul SAW berikut :
Sejak tiba di Madinah, Rasul mulai menjalankan pemerintahan untuk mengurusi urusan umat islam, mengatur urusan administrasi dan membangun masyarakat Islam. Beliau mulai mengutus sahabat Hamzah ibn abdul muthalib, ubaidah ibn harits, sa’ad ibn abi waqash sbg komandan untuk memerangi quraisy. Beliau juga mengutus Zaid ibn haritsah, Ja’far ibn abi thalib, dan Abdullah ibn rawahah untuk menyerang romawi. Beliau juga mengangkat sahabat ‘utab ibn Said mjd gubernur Makkah, Muadz ibn Jabal sbg gubernur Jaud, Khalid ibn Sa’id ibn Ash mjd pegawai di  Shun’a. Zayad ibn Labid Al-Anshari di Hadra maut, Abu Musa al-asy’ari sbg gubernur di Zabid dan and’, Amr ibn Ash sbg gubernur Oman, Adi ibn Hatim sbg gubernur di Thayyi’. Abu Dujanah sbg pegawai Rasul SAW di Medinah. Beliau juga mengangkat Abdullah ibn Rawahah setiap tahun untuk menghitung hasil pertanian yahudi khaibar. Rasul SAW juga mengangkat para hakim yaitu Ali ibn abi Thalib sbg hakim di yaman, Abdullah ibn naufalmuadz iibn jabal sbg hakim di yaman. Beliau juga menunjuk Harits ibn Auf sbg petugas yg membubuhkan stempel dg cincin nabi SAW, Zubair ibn Awwam sbg pencatat hasil zakat, Mughirah ibn Syu’bah sbg pencatat hutang2 negara dan masalah muamalah, Syuhrabil ibn Hasanah sbg pencatat penandatanganan perjanjian kpd para raja. Rasul SAW juga sering bermusyawarah dg 14 orang sahabat, 7 dr kaum Anshar dan 7 sisanya dari muhajirin, mereka a.l : Hamzah, Abu Bakaar, Umar, Ali, Ibn mas’ud, Salman, Ammar, Hudzaifah, Migdad dan Bilal. Yang kedudukan mereka spt majelis syuro. Walhasil Rasul SAW sendirilah yg menegakkan struktur daulah, serta menjalankannya dan menyempurnakannya selama masa hidupnya. Negara Khilafah memiliki pemimpin, para muawwin, gubernur, hakim, militer, kepala administrasi, dan majelis syuro. Dan semua riwauyat ini diriwayatkan scr mutawatir. (Lihat Kitab Ad-Daulah Al-Islamiyyah oleh Imam An-Nabhani, hal. 123-127 \ Bab Jihaz Ad-Daulah Al-Islamiyyah).
Terbukti Para Sahabat ra. tidak pernah membedakan antara dakwah kepada Tauhid (mengajak orang kafir masuk ke dalam Islam) dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan keterlibatan mereka dalam berbagai tugas kenegaraan dalam Daulah Khilafah kala itu !!?!. Sedang mencintai para sahabat dan mengikuti apa yg mereka lakukan dengan membedakan antara dakwah kepada Tauhid (mengajak orang kafir masuk ke dalam Islam) dengan dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam adalah tanda mereka merupakan bagain dari Ahlus Sunnah.
Perhatikan perkataan Imam Al-Barbahari ttg masalah ini. Imam Al Barbahary berkata : “Jika kamu lihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Usaid bin Hudlair radliyallahu ‘anhum maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah –Insya Allah– dan jika kamu lihat seseorang mencintai Ayyub, Ibnu ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, ‘Abdullah bin Idris Al Audi, Asy Sya’bi, Malik bin Mighwal, Yazid bin Zurai, Mu’adz bin Mu’adz, Wahb bin Jarir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, Al Auza’i, dan Zaidah bin Qudamah maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah begitu pula jika ada seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, Al Hajjaj bin Al Minhal, Ahmad bin Nashr serta menyebut kebaikan mereka dan berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah ia adalah seorang Sunni.” (Syarhus Sunnah 119-121).
Karena pada hakekatnya dakwah kepada tauhid dengan dakwah li isti’nafil hayatil islamiyyah, ibarat dua sisi mata uang yang tdk dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Sehingga tidak ada alasan karena sekarang dakwah tauhid belum terlaksana (mnrt sangkaan si Ikhwan dan kelompoknya), maka dakwah untuk menegakkan syari’at Islam dalam Daulah Khilafah dapat ditunda atau menjadi gugur kewajibannya. Sungguh tidak ada seorangpun Ahli Ilmu atau para Ulama dari masa ke masa yg mengatakan seperti yang dikatakan oleh si Ikhwan dan kelompoknya !!! Silahkan wahai ikhwan tunjukan kitab2 para Ulama (khususnya Ulama salaf) yang mengatakan seperti itu (nb : kitab2 yg ditulis oleh selain Ulama2  dr kelompok ‘Neo Salafi’ ini !!!)
D- Bahkan rasul mengatakan dalam hadisnya yg sering dinukil oleh Salafi : “…Dan hendaknya kamu berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Para Khulafa’ Ar-rasyidin ….. (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim). Bukankah dalam hadis ini Rasul memerintahkan kpd umat Islam agar mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khalifah Ar-Rasyidin, bukan diperintahkan untuk mengikuti Abu bakar, Umar, Utsman, dan Ali sbg individu sahabat. Padahal jabatan Khalifah adalah jabatan kenegaraan tertinggi dalam struktur daulah islamiyyah semenjak masa Nabi SAW !!!!? Bahkan mereka Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali meninggal dengan status sebagai amirul mukminin atau Khalifah umat Islam. Bahkan Umar dan Utsman terbunuh karena jabatan mereka sebagai Khalifah umat Islam !!! Lalu kenapa Salafi yg mengklaim penerus manhaj Salaf, tidak mengambil sunnah Nabi dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin dalam hal bentuk negara yaitu Daulah Khilafah, malah mendukung Kerajaan Saudi yg sejak awal memproklamirkan dirinya sebagai kerajaan bukan Daulah Khilafah !!!?
E- Malahan anda memusuhi para pejuang Islam yg hendak melanjutkan sunnah Nabi dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin dengan menerapkan islam scr kaffah dalam naungan Daulah Khilafah ala minhaj An-Nubuwwah, sebaliknya Salafi malah mengambil Sunnah Heraklius (raja Rum) dan Kaesar (raja Persi) dengan mendukung Kerajaan Saudi (bahkan menganggapnya sebagai Daulah Tauhid), sebagaimana ungkapan Abdurahman Ibn Abi Bakar (ketika mengomentari penunjukan Muawiyyah kepada yazid sbg Khalifah penggantinya) : “Ini adalah Sunnah Heraklius (raja Rum) dan Kaesar (raja persia)” (Lihat As-Suyuti, Tarikh Khulafa’, hal. 162) !!!?.
F- Tentang perintah rasul SAW untuk mengawali dakwah Tauhid, selanjutnya dakwah kepada syari’at. Hizb sepakat dan tidak menolak hal ini. Tidak pernah Hizb dalam kitab2 mutabanatnya menyatakan dahulukan dakwah pada khilafah baru dakwah kpd tauhid !!!? (nb: Ini adl persepsi org Salafi kpd dakwah Hizb, bukan penyataan resmi dr Hizb). Dakwah untuk menerapkan syari’at Islam pada hakekatnya adalah tuntutan dan menifestasi tauhid seorang muslim, yg tidak hanya dituntut harus yakin dg rukun iman, tapi juga harus terikat dengan syariat islam yang terpancar dari aqidah tadi. Oleh karena itulah Hizb menganggap bahwa dakwah tauhid harus integral dengan dakwah untuk menegakkan syari’ah Islam, mulai dari skala individu, masyarakat dan negara. Itulah yang dimaksud dengan konsep tauhid ruhiyyah dan tauhid siyasah !!!
Tauhid siyasah adalah pemikiran2 dan hukum2 berkaitan dg masalah keakhiratan seperti kiamat, pahala, siksa, peringatan, petunjuk, dorongan untuk menperoleh pahala dll, sedang tauhid siyasah pemikiran2 dan hukum2 berkaitan dg masalah dunia seperti pembebanan hokum, kebaikan, kebururkan, perdagangan, sewa-menyewa, perkawinan, perseroan, warisan , sangsi, jihad dll. Sehingga pandangan hidup yang lahir dari aqidah Islam adalah halal dan haram. Yang ini merupakan thoriqoh unutk membangun keterikatan terhadap hukum2 syara’. Sehingga perkara apa saja yg halal baik yang hukumnya wajib, sunnah atau mubah, maka ia akan diambil tanpa ragu. Sedangkan jika perkara itu hukumnya haram atau makruh maka ia akan meninggalkannya tanpa ragu pula (Lihat Kitab Hadis Ash-Shiyam oleh Imam An-Nabhani, Bab Aqidah Ar-Ruhiyah wa Aqidah As-Siyasiyah) !!!?.
G- Sedangkan berkaitan dengan hadis Ibn Abbas ra. Yang menceritakan bahwa ketika Rasul SAW memerintahkan Muadz ke Yaman, beliau bersabda : “Kamu akan mendatangi suatu kaum dr ahli Kitab,. Maka yg harus pertama kali kamu serukan adalah agar mereka mengesakan Allah SWT. Bila mereka sudah mengerti hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah memerintahkann kepada mereka untuk menunaikan sholat lima waktu….” (HR. Al-Bukhari). Imam An-Nabhani menjelaskan maksud dari hadis ini bahwa kewajiban pertama seorang muslimdalam berdakwah adalah mengajak kepada Tauhidullah, setelah mengajak mereka kepada hukum2 Allah (Lihat Kitab Hadis Ash-Shiyam oleh Imam An-Nabhani, Bab Tauhidullah) ?!!! Bukankah Si Ikhwan juga mengakui didalam sebagian buku Hizb yg ia miliki, ia mendapatkan pembahasan tentang masalah aqidah (nb : sekalipun mnrt ia terlalu sedikit dibanding masalah politik. Dan terbukti tuduhannya tdk terbukti, krn kalau ia pernah ngaji di HT, ngajinya ‘ndak pepek’ (tdk tuntas) atau krn sedikitnya buku2 mutabanat HT yg ia punya (dan belum tentu ia faham dg isinya). Dengan catatan klaimnya bahwa ia  pernah ngaji di HT itu benar !!!?)
Sedang pengertian sebenarnya dari hadis ini adalah Muadz diutus kepada Ahlul Kitab atau diutus kepada orang Kafir. Sehingga yg dimaksud dengan Dakwah Tauhid disini adalah dakwah untuk mengajak orang Kafir untuk masuk Islam (dakwah ilal Islam). Sedang dakwah tauhid yg dilakukan kepada penduduk negeri kaum muslimin saat ini adalah dakwah li isti’nafil hayah Al-Islamiyyah (dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam yaitu dakwah untuk mengajak mereka terikat dan menerapkan hukum2 Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan mereka), karena mereka saat ini sudah Islam. Kecuali Ikhwan dan kelompoknya menganggap mereka (yaitu kaum muslimin) sudah kafir karena tidak sefaham dg mereka atau tdk mengkaji kitab2 aqidah yg mereka ‘rekomendasikan’, maka kami berlepas diri dari ucapan batil ini !!!?. Sehingga kalau Si Ikhwan berdalil dg hadis ini untuk membenarkan pendapatnya.
H- Lalu kalau memang benar klaim anta bahwa hanya antalah yang menguasai seluruh tsaqofah Islam, maka mana konsep anda tawarkan untuk mengatasi krisis keuangan, mana juga konsep anda untuk menangani masalah ketenagakerjaan, juga masalah pengelolaan sumber daya alam, masalah good and clean government, mana konsep anda tentang Bank Sentral ala Islam, tentang pendidikan, kesehatan, politik luar negeri, sistem pidana, perundang-undangan dll. Kalau anda tidak mempunyai itu semua dan anda tidak mampu untuk memberi jawaban atas problematika yang dihadapi oleh umat ini, lalu untuk apa anda berteriak-teriak akan dapat menjadi juru selamat kalau tidak ada yang bisa anda gunakan untuk menyelamatkan umat ini. Maka batal dan rontoklah shubhat yang dilontarkan oleh mereka ?!??