ISLAM SEBAGAI SOLUSI KRISIS MULTIDIMENSI
Allah swt dalam Al Quran surat an Nahl ayat 112 memebrikan perumpamaan tentang sebuah negeri :
“ Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan ( dengan ) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari sergenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat ( QS. An-Nahl : 112 ).
Allah memberikan perumpamaan sebuah negeri, dimana negeri itu dulunya aman, tentram tapi juga sangat sejahtera. Sedemikian sejahteranya digambarkan oleh Allah rizkinya sangat berlimpah sekali. Kata Raghadan diartikan dengan baik dan banyak kemudian datang dari berbagai penjuru atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang. Melimpah ruah rizki untuk negeri itu. Akan tetapi keadaan yang aman, tentram dan sejahtera itu berubah total karena penduduk mengingkari nikmat-nikmat Allah. Lalu Allah menimpakan kepada mereka penduduk negeri itu pakaian kelaparan dan ketakutan. Itu semua terjadi karena perbuatan dari penduduk negeri itu.
Kalau kita cermati dengan fikiran yang jernih keadaan negeri kita ini, kurang lebih seperti yang digambarkan oleh ayat ini. Kita berada dalam negeri yang menurut para pujangga dulu disebut sebagai zamrud katulistiwa yang gemah ripah lohjinawi, yang tumbuh segala apa yang ditanam. Memang benar, negeri kita ini adalah negeri yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Areal hutan kita ini paling luas diseluruh dunia yang hanya bisa disaingi oleh Meksiko dan Brazil. Panjang pantai kita juga merupakan salah satu yang terbesar di dunia itu menunjukan supaya kita yang memanfaatkan semua potensi sumber daya laut, yang menurut menteri kelautan satu tahun bisa menghasilkan 8 Milyar US dolar, kurang lebih sekitar 80 Triliun rupiah pertahun. Alamnya indah, subur belum lagi di sektor tambang dengan barang-barang tambangnya. Kita memiliki cadangan minyak kurang lebih 70 milyar barel, kita juga punya tambang batu bara, emas, khusus emas yang ada di Irian jaya setiap hari diambil oleh PT Preefort 200 ribu ons emas kotor. Singkatnya, negeri kita ini adalah negeri yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat luar biasa, akan tetapi apa yang kita alami sekarang ini kurang lebih sama seperti yang diceritakan oleh Allah swt di dalam ayat diatas tersebut.
Dan kenyataannya, ditengah-tengah sumber daya alam yang sangat kaya dan melimpah tapi rakyatnya miskin-miskin dan melarat. Kalau kita mengacu kepada garisan yang dibuat Word Bank bahwa orang miskin itu adalah yang berpendapatan 2 dolar sehari, maka ada 130 juta rakyat Indonesia yang dibawah garis kemiskinan. Kalau kita mengikuti ketetapan yang dibuat oleh pemerintah itu kurang lebih ada 15 keluarga kalau masing-masing keluarga membawa 4 orang, jadi ada 600 juta rakyat Indonesia dibawah kemiskinan. Angka pengangguran sangat besar. Terakhir disebutkan pengangguran mutlak kurang lebih 10,2 %. Kalau angkatan kerja kita sekitar 100 juta maka pengangguran menjadi 10,2 Juta. Kalau ditambah mereka yang hanya bekerja beberapa jam dalam seminggu, kurang dari 35 jam seminggu, maka ada sekitar 40 juta rakyat Indonesia yang bisa dikatakan menganggur. Siapa mereka ? Mereka tentu saja saudara-saudara kita Muslim. Belum lagi kita menghadapi problem sosial yang sangat parah, angka kriminalitas yang terus meningkat akibat krisis yang melanda Indonesia. Angkanya sampai 100 %. Ketegangan sosial akibat pengangguran, rendahnya daya beli, akibatnya perselisihan dalam rumah tangga berujung kepada perceraian. Perceraian selama krisis terus meningkat sekitar 400 %, banyak keluarga yang turun pendapatannya bahkan tidak bisa memberikan makanan yang bergizi kepada anak-anaknya ( mal nutrisi ) yang berujung kepada busung lapar terjadi dimana-mana. Ditambah lagi dengan maraknya problem sosial yang lain, kriminalitas, korupsi dll.
Jadi, kalau kemudian kita sekarang merasa dihimpit oleh berbagai persoalan suasana yang mencekam, maka benarlah apa yang diceritakan oleh Allah swt dalam al Quran. Bahwa kita ini bagaikan sebuah penduduk negeri yang kaya raya tetapi kemudian keadaan kita bagaikan mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan. Sebuah perumpamaan yang sangat menarik, karena mungkin saja dalam hidup ada waktu-waktu tidak mengenakan pakaian, tapi itu pasti lebih sedikit dibandingkan kita memakai pakaian. Artinya keadaan yang penuh dengan ketakutan dan kelaparan itu benar-benar menghimpit penduduk negeri, menghimpit kita semua. Pertanyaannya, mengapa semua itu bisa terjadi ?
Ada banyak cara pandang, perspektif, yaitu perspektif yang diajarkan oleh al Quran kepada kita. Di dalam surat Ar Rum ayat 41 Allah swt menegaskan
“ Telah nampak kerusakan di darat dan dilautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar ( QS. Ar Rum : 41 ).
Apa yang dimaksud dengan bimaa kasabat aidin nas ? Muhammad Ali as Shobuny dalam kitab Shafatut tafsir menyatakan bahwa bima kasabat aidin nas adalah bisababi ma’ashiy wadzunuubihim “Karena kemaksiatan dan dosa-dosa manusia”, Apakah yang dimaksud dengan maksiat ? Maksiat adalah setiap pelanggaran terhadap syariat, melakukan yang haram, meninggalkan yang wajib, itulah maksiat. Jadi, setiap maksiat pasti berdosa dan setiap dosa itu pasti akan menimbulkan fasad atau kerusakan.
Kalau sekarang kita menderita begitu rupa, maka evaluasi diri, kemaksiatan apa yang telah saya lakukan ? Secara personal kita bisa meneliti diri sendiri masing-masing. Dan secara komunal sebagai sebuah bangsa kita sampai detik ini telah banyak melakukan kemaksiatan. Kita lihat misalnya dibidang ekonomi, sampai detik ini kita terus menggunakan sistem ekonomi kapitalis, dimana tolak ukurnya bukan halal dan haram, tetapi apa yang memberikan keuntungan secara material itu dilakukan meskipun tidak sesuai dengan ketentuan syariah. Riba yang begitu keras dilarang oleh Allah swt sampai saat ini menjadi pilar utama sistem moneter kita. Di negeri ini yang mayoritas muslim ini masih berdiri tegak 200 pabrik minuman keras yang memproduksi 250 juta liter yang dipasarkan ke dalam negeri. Kemudian masih banyak lagi contoh dibidang ekonomi. Ekonomi kita ini masih digerakkan dengan sistem ekonomi kapitalis, ini adalah sebuah kemaksiatan besar.
Di bidang kebudayaan, nyata betul bahwa budaya kita ini bergerak dengan prinsip-prinsip budaya Barat ( westernisme ) yang berinti amoralisme. Bahkan sekarang budaya pornografi telah menjadi industri, maka tak heran kemudian banyak muncul dan bertebaran majalah, VCD, dan film-film forno ditengah-tengah masyarakat. Kehadiran Playboy pada Maret nanti, itu hanya melengkapi kekacauan budaya Indonesia yang berkiblat kepada Barat, tidak berkiblat kepada Islam.
Kemudian dibidang-bidang lain, seperti pendidikan, politik, pengelolaan sumber daya alam dan sebagainya semua jauh dari nilai-nilai Islam, semua itu hanyalah kemaksiatan. Kalau kemudian kita menderita dan banyak sekali masalah-masalah itu adalah sesuatu hal yang wajar karena kemaksiatan pasti akan menghasilkan pasad (kerusakan ).
Kalau begitu apa yang harus kita lakukan ? Allah mengatakan dalam potongan ayat selanjutnya “Itu semua dinampakkan oleh Allah swt kepada kita, agar kita segera sadar dari kekeliruan kita dan kita kembali ke jalan Allah, kembali kepada Islam “.
Kemana lagi kita mengadu ? setelah sosialisme ( komunis )hancur ditinggalkan oleh pemeluknya. Kemudian kapitalisme telah sangat gamblang memberikan gambaran kepada kita tentang ketidak mampuannya untuk menata kehidupan manusia. Kemana lagi kita akan mengadu kalau tidak kepada Islam.
Jadi, kalau ada hikmah dari krisis multidimensi yang kita alami pada dewasa ini, maka hikmah terbesar itu sesungguhnya adalah menyadarkan kita untuk segera kembali kepada jalan Allah swt. Kalau itu tidak kita lakukan, maka sungguh krisis multidimensi yang demikian berat menimpa penduduk negeri ini tidak memberikan hikmah apa-apa kecuali penderitaan-penderitaan dan ditambah lagi musibah-musibah yang datang beruntun yang terus menerus menerpa kita. Kalau keadaan kita tidak berubah, maka bagaimana kita akan bisa keluar dari krisis ini dan kemudian menyongsong kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Oleh karena itu, marilah kita mencoba untuk merenungkan sedalam-dalamnya apa yang sesungguhnya yang sudah terjadi di negeri ini ? Apa yang semestinya yang kita lakukan ? dan apa yang harus kita lakukan untuk merubah negeri ini seperti negeri yang selama ini kita cita-citakan yakni Baldatun thayyibatun warabbun ghaafuur.
Wallahu A’lam Bisshawab
DIarsipkan di bawah: Tsaqofah | yang berkaitan: islam, krisis, solusi
ass. alhmdlh tulisannya bs sy manfaatkan utk bahan kegiatan sy. tp sy bingung referensi data yang diambil dalam tulisan ini dari mana ya? blm disebutkan… bs bantu? syukron